JATIMPOS.CO/KLATEN. Upaya menghidupkan kembali kejayaan tembakau di Kabupaten Klaten terus dilakukan. Tahun 2026, PTPN I Regional 5 memperluas areal tanam tembakau dari sebelumnya 25 hektare menjadi 50 hektare. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi komoditas ekspor, tetapi juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat perekonomian masyarakat setempat.

Perluasan areal tanam tersebut ditandai dengan kegiatan tanam perdana tembakau di wilayah Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (4/6/2026). Pada musim tanam tahun ini, perusahaan mengembangkan tembakau Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan dengan total luas lahan mencapai 50 hektare.

Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, mengatakan peningkatan luas tanam menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan kembali komoditas tembakau Klaten yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

" Tanam perdana tahun ini menjadi momentum penting bagi pengembangan tembakau Klaten. Dengan peningkatan luas tanam dari 25 hektare menjadi 50 hektare, kami optimistis komoditas ini dapat terus berkembang, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," kata Subagiyo.

Menurut dia, tembakau Besuki Na-Oogst merupakan salah satu komoditas unggulan yang selama ini berorientasi ekspor. Produk hasil panennya banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri cerutu premium di pasar internasional, terutama Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.

Pada musim tanam tahun ini, perusahaan menargetkan produktivitas mencapai 1.700 kilogram per hektare. Masa tanam berlangsung sekitar tujuh bulan dengan panen satu kali dalam setahun.

Meski memiliki prospek pasar yang menjanjikan, budidaya tembakau masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakstabilan cuaca dan keterbatasan tenaga kerja menjadi persoalan yang perlu diantisipasi agar produktivitas tetap terjaga.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, perusahaan menerapkan berbagai langkah pengelolaan budidaya, mulai dari pengaturan naungan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan berimbang, hingga optimalisasi pengelolaan sumber daya air.

Selain memperluas areal tanam, PTPN I Regional 5 juga berupaya memperkuat ketahanan sektor pertanian masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Dalam program tersebut, perusahaan menyalurkan bantuan berupa 38 titik sumur bor dan tujuh unit mesin pompa air yang tersebar di tujuh desa, yakni Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo.

Bantuan tersebut dinilai penting karena persoalan ketersediaan air masih menjadi kendala utama bagi sebagian petani, terutama saat memasuki musim kemarau.

Ketua kelompok tani penerima manfaat dari Desa Sukorejo, Dalino, mengatakan keberadaan sumur bor dan mesin pompa air membantu petani memperoleh akses air yang lebih mudah untuk mengairi lahan pertanian.

" Adanya bantuan sumur bor dan mesin pompa air dari PTPN I ini sangat meringankan beban para petani yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses air untuk lahan pertanian. Kami mendoakan agar program tanam perdana tembakau PTPN I ini berjalan sukses dan mencapai target yang diharapkan," ujar Dalino.

Kepala Bagian Sekretariat dan Umum PTPN I Regional 5, Reggy Irawan Setiyobudi, menjelaskan total nilai program TJSL tersebut mencapai Rp99,9 juta. Bantuan itu diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan air sekaligus mendukung peningkatan intensitas tanam masyarakat.

" Kami berharap bantuan 38 titik sumur bor dan 7 unit mesin pompa air ini dapat meningkatkan ketersediaan air bagi pertanian sehingga petani dapat meningkatkan intensitas tanam hingga dua kali dalam setahun," kata Reggy.

PTPN I Regional 5 menilai keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari capaian produksi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Melalui perluasan tanam tembakau dan penguatan akses air bagi petani, perusahaan berharap dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.(*)