JATIMPOS.CO//PASURUAN - PC PMII Pasuruan bersama Aliansi BEM Pasuruan Raya menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Kota Pasuruan, Jalan Pahlawan, Rabu (23/9/2026) sore. Mereka membawa isu “September Hitam dan September Gelap” untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah daerah.
Aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB. Perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi secara bergantian menyampaikan orasi serta tuntutan yang berkaitan dengan anggaran, kesejahteraan masyarakat, dan persoalan lingkungan.
Dalam kajian yang disampaikan saat aksi, mahasiswa menyoroti anggaran pemeliharaan fasilitas rumah dinas Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Mereka menyebut alokasi tersebut mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dengan nilai mencapai Rp522 juta.
Besaran anggaran itu dipersoalkan lantaran mahasiswa menilai masih terdapat persoalan sosial yang membutuhkan perhatian pemerintah. Massa menyebut berdasarkan data BPS terdapat sekitar 5.900 penduduk usia produktif berstatus pengangguran dan 12.830 jiwa berada di bawah garis kemiskinan.
Persoalan lingkungan juga menjadi bagian dari aspirasi. Mahasiswa menyoroti kekeringan yang disebut terjadi di Kelurahan Bugul Lor, Karanganyar, Panggung, dan Ngemplak.
Mereka meminta pemerintah daerah menyesuaikan prioritas kebijakan dengan kondisi masyarakat. Menurut massa, persoalan kesejahteraan dan kebutuhan dasar warga perlu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan anggaran.
Di lokasi, personel Polres Pasuruan Kota bersama TNI melakukan pengamanan jalannya demonstrasi. Hingga menjelang Magrib, kegiatan berlangsung tertib dan tidak terjadi bentrokan.
Sekitar pukul 16.00 WIB, Wali Kota Pasuruan H. Adi Wibowo datang menemui peserta aksi. Ia didampingi Wakil Wali Kota M. Nawawi, Pj. Sekda Lucky Danardono, Direktur PDAM, Yudhi Wibowo, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat H. Imam Subekti serta Ketua Komisi III DPRD Kota Pasuruan Suci Mardiko.
Adi kemudian berdialog langsung dengan mahasiswa selama lebih dari satu jam. Selain mendengarkan tuntutan peserta, ia menerima aspirasi dari perwakilan warga Panggungrejo.
Dialog tersebut berujung pada penandatanganan kesanggupan untuk menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan. Setelah proses itu selesai, massa membubarkan diri secara tertib dengan pengawalan aparat.
Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menyampaikan apresiasi atas penyampaian aspirasi yang berlangsung damai. Ia mengatakan mahasiswa mempunyai peran dalam mengawal pembangunan sekaligus memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah daerah.
“Saya sangat menghargai keberanian adik-adik mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan damai tanpa adanya gesekan. Pemerintah Kota Pasuruan akan berupaya semaksimal mungkin memperjuangkan harapan rakyat dan menempatkan kepentingan publik di atas segalanya,” ujar Adi Wibowo.
Ia menegaskan pemerintah daerah tetap menyediakan ruang komunikasi bagi seluruh elemen masyarakat. Kritik, kata dia, menjadi salah satu bahan evaluasi dalam memperbaiki penyelenggaraan pemerintahan.
“Pemerintah tidak anti kritik. Justru aspirasi masyarakat menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk mempercepat pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan warga,” katanya.
Adi juga mengajak mahasiswa menjaga komunikasi melalui dialog dan kolaborasi program sosial. Menurutnya, keterlibatan generasi muda penting untuk ikut mengawal pembangunan serta memastikan kebijakan daerah tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat. (shl)