JATIMPOS.CO/KOTA MADIUN - Deru tambur menggema di sepanjang lorong Kampung Pecinan Barito, Sabtu (14/2/2026) sore. Sejumlah warga berkerumun, sebagian mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen ketika atraksi barongsai meliuk di depan panggung utama. Di tengah riuh tepuk tangan, Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun memukul tambur, menandai resmi dibukanya Bazar Imlek di kawasan yang telah lama dikenal sebagai simpul sejarah Tionghoa di Kota Pendekar.
Bazar Imlek tahun ini bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah Kota Madiun ingin menjadikannya sebagai pintu masuk untuk membangun ulang identitas kawasan Barito—dari sekadar sentra jajanan musiman menjadi ikon wisata kuliner Pecinan yang hidup sepanjang tahun.
“Imlek bukan hanya perayaan, tetapi salah satu budaya yang menyatukan keberagaman. Dengan adanya Imlek di Kota Madiun, perbedaan itu tidak ada, semua menjadi satu,” ujar Bagus Panuntun.
Barito, menurut Bagus, menyimpan jejak sejarah dan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya digarap. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai area “legend” yang memiliki daya tarik kuat, baik dari sisi kuliner maupun atmosfer budaya.
Di kanan-kiri jalan, stan-stan UMKM berjajar menjual aneka makanan khas Imlek—mulai dari kue keranjang, lumpia, hingga jajanan kekinian yang dikemas dengan sentuhan oriental. Aroma masakan bercampur dupa menciptakan suasana khas perayaan Tahun Baru Imlek.
“Ke depan saya ingin kawasan ini menjadi ikon Pecinan kuliner jajanan. Nanti akan kita konsep dan revitalisasi agar semakin menarik dan menjadi tujuan wisatawan,” katanya.
Revitalisasi yang dimaksud tak berhenti pada kosmetik. Pemerintah kota merencanakan perbaikan trotoar, penataan kebersihan kawasan kuliner, hingga pelibatan warga dalam pengembangan usaha. Konsepnya, Barito tak hanya menjadi tempat makan, melainkan ruang interaksi dan edukasi.
Pengunjung nantinya diharapkan bisa menyaksikan langsung proses pembuatan kuliner, mengenal sejarah kawasan, hingga memahami tradisi yang hidup di tengah masyarakat Tionghoa Madiun.
Bagi pelaku UMKM, bazar ini menjadi momentum penting. Selain mendapatkan ruang promosi, mereka juga menerima dukungan konkret berupa pembagian voucher kepada masyarakat yang bisa ditukarkan dengan aneka kuliner di stan.
Langkah itu bukan sekadar gimmick perayaan, melainkan strategi menggerakkan transaksi secara langsung di lapangan. Pemerintah Kota Madiun berharap geliat ekonomi UMKM terus tumbuh, seiring dengan penguatan identitas Barito sebagai pusat kuliner dan budaya.
Di sela kunjungannya, Bagus menyapa pedagang satu per satu. Beberapa warga tampak antusias memanfaatkan voucher yang dibagikan. Transaksi kecil-kecilan di tiap stan menjadi penanda bahwa perayaan budaya bisa berkelindan dengan penguatan ekonomi rakyat.
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan, perayaan Imlek di Barito menjadi panggung simbolik toleransi. Warga dari berbagai latar belakang hadir, berbaur tanpa sekat.
Bagus menutup sambutannya dengan ucapan selamat Tahun Baru Imlek kepada masyarakat Kota Madiun. Ia juga menyampaikan harapan agar semangat Tahun Kuda Api membawa kreativitas dan optimisme baru.
“Saya titip dukungan masyarakat untuk revitalisasi Barito. Semoga di Tahun Kuda Api ini kita semua semakin kreatif, semangat, dan harapan baru kita bisa selaras dengan cita-cita bersama,” ujarnya.
Sore itu, suara tambur dan gemerlap lampion bukan hanya menjadi tanda dimulainya bazar. Ia sekaligus menjadi simbol langkah awal menjadikan Barito sebagai etalase keberagaman, ruang perjumpaan budaya, dan seperti yang dicita-citakan pemerintah kota destinasi wisata kuliner yang membanggakan warga Madiun. (jum).
