JATIMPOS.CO/SIDOARJO- Sebanyak 300 benda pusaka seperti keris, tombak, mandau dan sebagainya di dijamas atau dibersihkan/dirawat bersamaan dengan bulan syuro di Museum Mpu Tantular Buduran Sidoarjo mulai Rabu hingga Jum’at (24-26) Juni 2026.

Penjamas berasal dari Paguyuban Pelestari Keris dan Tosan Aji Kabupaten Pamekasan Madura. Ratusan koleksi benda pusaka itu merupakan milik Museum Mpu Tantular dan Sebagian lainnya titipan masyarakat.

“Jadi selain kita menjamas koleksi benda pusaka milik museum, kami juga membuka kesempatan kepada masyarakat yang ingin menitipkan benda pusakanya untuk dijamas di museum ini,” kata Kepala UPT Museum Mpu Tantular, Rica Fuspita. S.STP., M.Si dalam laporannya.

Kirab jamasan pusaka di Museum Mpu Tantular, Rabu (24/6/2026)

----------------------------------

Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan Jamasan Pusaka ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang bagaimana cara perawatan benda pusaka dengan baik dan benar, sehingga benda pusaka ini akan tetap terpelihara dan terjaga kelestariannya.

Sementara itu Kadisbudpar Jatim Evy Afianasari dalam pesan tertulis yang disampaikan Kabid Kebudayaan, Sadari, S.Sn, mengemukakan bahwa ada dua kegiatan yang dilakukan untuk pemajuan kebudayaan. Jadi ada tangible maupun intangiblenya. Proses kegiatan jamasan pusaka ini tentu menjawab yang intangiblenya.

Kemudian nanti dilanjutkan melalui aktivitas konservasinya, jadi langsung berhadapan pada konsep bagaimana merawat pusaka, merawat keris dan pusaka yang lain agar tetap terjaga kondisinya, terlestarikan keberadaannya yang harapannya bisa dinikmati oleh generasi muda yang akan datang.

Kita tahu bahwa keris merupakan warisan nenek moyang kita yang sudah ditetapkan UNESCO 25 november tahun 2005, yang kemudian diikuti oleh warisan-warisan leluhur kita yang lain.

“Untuk itu apa yang dilakukan oleh museum pada hari ini tentu untuk menjaga regulasinya. Jadi warisan budaya yang sudah ditetapkan oleh dunia perlu ada aktivitas yang dikerjakan oleh siapa pemilik warisan tersebut,” ujarnya.

Jadi tetap menjadi tanggung jawab kita bersama dalam pelestariannya, tidak hanya pemerintah, tentu panjenengan semua terutama para pemerhati, para pelaku, serta masyarakat kita semua dalam upaya pelestarian ini. Tidak bisa kerja sendiri-sendiri.

Ketua Umum Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), Arief Wibisono, mengemukakan tradisi yang diwariskan para leluhur sejatinya mengajak manusia untuk kembali memahami asal-usul dan menata kembali hubungan dengan sesama, alam, serta Sang Pencipta.

"Pada hari ini sebenarnya mengajak kita kembali, pertama bagaimana cara kita memiliki asal. Mari kita hening sejenak dalam perjalanan hidup kita, apakah kita dalam perjalanan ini sudah selaras, sudah memayu hayuning bawono dengan alam semesta ini," ujarnya.

Ia menuturkan, jamasan yang dilakukan pada bulan Suro merupakan pengingat bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan selama menjalani kehidupan."Jamasan pada bulan Suro ini di Museum Mpu Tantular, leluhur dalam tradisi ini ingin mengingatkan kita semua bahwa manusia ini tidak pernah luput yang namanya dari sebuah kesalahan dan dosa," katanya.

Arief menjelaskan, dalam tradisi Nusantara, keris tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga memiliki makna simbolik yang merepresentasikan kemanusiaan.

"Nah, keris ini adalah simbol dari kemanusiaan kita sendiri, yang artinya dalam tradisi ini ibaratkan kita, kita ngeresiki lahir batin kita dalam satu tahun ke depan. Bagaimana kita menyiapkan mental spiritual," ungkapnya.

Menurutnya, prosesi doa bersama yang dilakukan sebelum jamasan merupakan bentuk ikhtiar memohon keselamatan untuk menghadapi perjalanan hidup pada tahun berikutnya.

Pada kesempatan tersebut, prosesi jamasan diawali dengan pembersihan Keris Nagasapto, keris luk tujuh yang menurut Arief melambangkan kewibawaan dan kepemimpinan.(zen)