JATIMPOS.CO/TUBAN — Ribuan warga memadati Lapangan Sport Center Desa Pucangan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Jumat (25/9/2026) malam. Mereka larut dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan Dalang Sigid bersama Sanggar Cakra Ningrat Rembang.

Pagelaran ini tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi sekaligus membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kegiatan kebudayaan ini dihadiri anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Aulia Hany Mustikasari, perwakilan Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur Sadari, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban M. Emawan, anggota DPRD Tuban Suratmin, Camat Montong Agus Suseno, serta Kepala Desa Pucangan Santiko.

Dalam kesempatan tersebut, Aulia Hany Mustikasari saat membuka acara menegaskan bahwa pagelaran wayang kulit memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan seni dan hiburan masyarakat.

Menurut Hany, kegiatan budaya seperti pagelaran wayang dapat menjadi ruang bertemunya pelestarian tradisi dengan aktivitas ekonomi warga. Kehadiran ribuan penonton, kata dia, dapat memberikan dampak lanjutan bagi pelaku UMKM di sekitar lokasi kegiatan.

“Wayang bukan sekadar hiburan budaya. Kami berharap ada multiplier effect, sehingga kegiatan seperti ini juga ikut menggerakkan pertumbuhan UMKM masyarakat,” ujar Hany.

Ia menilai, semakin banyak kegiatan seni dan budaya yang digelar di tengah masyarakat, semakin terbuka pula kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan dan menjual produk mereka.

Mulai dari kuliner, jajanan tradisional, minuman, hingga berbagai produk UMKM lainnya berpotensi mendapatkan pasar dari tingginya kunjungan masyarakat selama kegiatan berlangsung.

Karena itu, pelestarian budaya menurut Hany perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Wayang kulit sebagai warisan budaya tidak hanya dijaga keberadaannya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan potensi desa.

“Harapannya, budaya tetap lestari, masyarakat bisa menikmati pertunjukan, dan di sisi lain UMKM juga ikut tumbuh. Jadi ada manfaat budaya sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat,” imbuhnya.

Pagelaran wayang kulit tersebut juga ditandai dengan penyerahan tokoh wayang kulit Dewi Sri sebagai simbol penghormatan terhadap kekayaan budaya dan tradisi yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dewi Sri sendiri dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Penyerahan tokoh wayang tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa kesenian tradisional tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan untuk terus dikenalkan kepada generasi muda.

Sementara itu, Camat Montong, Agus Suseno menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pagelaran wayang kulit di wilayahnya. Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

“Terima kasih kami sampaikan setingi-tingginya atas hiburan yang terselenggara di wilayah Montong. Dari pegelaran wayang kulit ini kami percaya akan menumbuhkan semangat generasi muda untuk kemudian berusaha melestarikan budaya,” terang Agus.

Ribuan penonton datang untuk menyaksikan pertunjukan yang berlangsung hingga semalam suntuk tersebut. Suasana semakin meriah dengan aktivitas warga dan pelaku UMKM yang turut memanfaatkan momentum pagelaran untuk menjalankan usaha mereka.

Pagelaran wayang kulit di Pucangan diharapkan tidak berhenti sebagai agenda hiburan semata. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam merawat kesenian tradisional, memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal, sekaligus menciptakan ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Dengan demikian, panggung wayang tidak hanya menjadi tempat cerita dan filosofi budaya diwariskan, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya kebudayaan, masyarakat, dan geliat ekonomi lokal. (min)