JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER - Sebuah kisah inspiratif yang menyentuh dan penuh semangat, nampaknya hadir di dua Disabilitas yang hadir di aula SLB (Sekolah Luar Biasa) di Kabupaten Jember, Senin (1/12/2025).
Di aula tersebut, dua sosok dewasa tampak mencolok dengan seragam merah bercorak batik kuning. TEGUH (30) dan Wisnu (31) membaur dan tersenyum kepada adik-adik disabilitas lainnya.
Keduanya merupakan penyandang tuna wicara yang kini bisa berkarier di Alfamart. Kedatangan mereka kembali ke sekolah yang pernah membentuknya, untuk berbagi perjalanan hidup yang tidak selalu mudah, namun penuh harapan.
Teguh membuka sesi dengan cerita yang pelan tapi tegas. Dulu, ia sempat mempertanyakan apakah dirinya punya ruang di dunia kerja. Ia khawatir tidak mampu bersaing. Kekhawatiran itu semakin kuat setelah ia berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Hingga suatu hari, sebuah unggahan lowongan kerja untuk penyandang disabilitas muncul di layar ponselnya.
“Saya ragu waktu itu. Apakah orang seperti saya bisa diterima di Alfamart,” ujar Teguh saat kegiatan di SLBN Jember.
Meski ada keraguan dan kegelisahan, namun keraguan itu seketika berubah ketika Teguh mengungkapkan bahwa ia sudah enam tahun bekerja sebagai karyawan gerai Alfamart.
Informasi ini tentu membuat beberapa siswa spontan menegakkan badan, seraya ada secercah cahaya yang bisa membuat masa depan mereka bangkit.
“Di Alfamart, saya melayani konsumen dan menjalankan tugas seperti karyawan lainnya. Benefit yang saya dapatkan juga sama. Tidak ada perbedaan,” tambahnya.
Lanjutnya Wisnu sebagai rekan sejawatnya, menggunakan gerak tangan dan ekspresinya bercerita banyak, diterjemahkan juru bahasa isyarat yang mengikuti temponya. Sudah empat tahun ia bekerja di Alfamart, sebuah pengalaman yang ia sebut sebagai perjalanan yang membuatnya merasa diterima.
“Saya nyaman bekerja di Alfamart. Teman-teman selalu mendukung. Kalau saya kesulitan, mereka membantu dengan cara yang bisa saya pahami,” ungkap Wisnu, diterjemahkan dalam bahasa isyarat.
Ada ketenangan dalam caranya bercerita, ketenangan seseorang yang sudah menemukan tempat untuk tumbuh dan berkembang. Cerita ini bisa membuat para siswa melihat sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lihat begitu dekat sebelumnya. Masa depan yang mungkin juga bisa mereka temukan dan mereka jalani.
Teguh dan Wisnu adalah dua dari ribuan teman disabilitas yang kini dapat berkarier tanpa perbedaan di Alfamart. Menyambut momentum Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap tiga Desember, Alfamart terus memperkuat komitmennya untuk membuka kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas.
Alfability Menyapa, sebuah terobosan dari Alfamart yang menghadirkan kisah-kisah inspiratif ke berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB). Program ini menjadi jembatan bagi para lulusan SLB yang kini berkarier di Alfamart untuk kembali ke sekolah asal dan berbagi pengalaman kepada adik-adik kelasnya.
Human Capital Director Alfamart, Tri Wasono Sunu, menyebut bahwa kegiatan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berkembang, apa pun keterbatasannya.
“Alfability Menyapa hadir di 10 Sekolah Luar Biasa di 10 kota, membawa cerita para lulusan yang kini bekerja di Alfamart. Kami berharap kisah mereka dapat memotivasi para siswa bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk bersaing dan berkontribusi dalam dunia kerja,” kata Sunu.
Pelaksanaan Alfability Menyapa digelar di sepuluh kota, yakni Cilacap, Jakarta, Jambi, Jember, Luwu, Palembang, Parung, Semarang, Banjarmasin, dan Rembang. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung pada rentang 19 hingga 25 November 2025.
"Rangkaian kunjungan ini menjadi perjalanan menuju puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember mendatang, sekaligus mempertegas bahwa inklusivitas bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata yang berlangsung di Alfamart," Ulasnya.
Program Alfability sendiri mulai dijalankan tahun 2016. Mengambil kata Ability yang bermakna kemampuan, program ini merupakan sebuah program inklusi yang memberi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan potensi mereka untuk berkarya di mana Alfamart menjadi jembatan untuk mewujudkannya.
"Selama hampir satu dekade berjalan, program ini telah membuka lapangan kerja bagi penyandang disabilitas dari berbagai latar belakang. Hingga Oktober 2025, tercatat 1.129 penyandang disabilitas bekerja di Alfamart, dengan rincian 822 di gerai, 289 di pusat distribusi, hingga 18 bekerja di kantor. Sementara untuk di Alfamart cabang Jember terdapat 27 karyawan," tambahnya menjelaskan.
"Mereka hadir dalam lingkungan kerja Alfamart yang inklusif, mulai dari tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, tunaruwi, hingga tunarungu wicara. Keberagaman ini memperlihatkan bagian dari budaya perusahaan yang menghargai potensi setiap karyawan tanpa terkecuali," tutupnya.
Alfamart berharap Alfability dapat terus menjadi ruang bagi teman disabilitas untuk menunjukkan kemampuan, membangun karier, dan berkontribusi secara lebih luas dalam dunia kerja. Program ini juga dikemas dengan aksi sosial dari Alfamart melalui pemberian puluhan paket gobh godie bag berisi biskuit, susu, dan berbagai produk lainnya untuk teman teman SLBN Jember. (Ari)