JATIMPOS.CO/JOMBANG – Sarkopenia atau kondisi berkurangnya massa dan kekuatan otot masih belum banyak dipahami masyarakat. Padahal, penyakit ini cukup sering terjadi, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia), dan dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup hingga meningkatkan risiko kematian.

Hal tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD Jombang, dr. Raden Taufan Mulyo Wibisono, dalam dialog interaktif 'HUMAS RSUD Jombang Menyapa', Selasa (23/06/2026).

Menurut dr. Taufan, istilah sarkopenia berasal dari dua kata, yakni sarco yang berarti otot dan penia yang berarti berkurang. Dengan demikian, sarkopenia merupakan kondisi berkurangnya massa maupun kekuatan otot seseorang. 

“Banyak masyarakat menganggap orang tua yang mudah lelah, sering jatuh, atau jalannya melambat adalah hal yang wajar karena faktor usia. Padahal bisa jadi itu merupakan gejala sarkopenia yang perlu mendapat perhatian,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, prevalensi sarkopenia di Indonesia berdasarkan penelitian mencapai sekitar 9–10 persen. Sementara di sejumlah negara maju, angka kejadian pada populasi lansia bahkan dapat mencapai 30–40 persen. 

Dr. Taufan mengungkapkan, faktor utama penyebab sarkopenia adalah proses penuaan yang berkaitan dengan penurunan hormon testosteron pada pria dan estrogen pada wanita. Selain itu, penyakit kronis seperti diabetes juga memiliki hubungan erat dengan sarkopenia. 

“Hubungan diabetes dan sarkopenia itu seperti lingkaran setan. Sarkopenia dapat memicu diabetes, sementara diabetes juga dapat mempercepat terjadinya sarkopenia,” jelasnya. 

Selain faktor usia dan penyakit kronis, gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko yang semakin banyak ditemukan pada berbagai kelompok usia. Kebiasaan malas bergerak, terlalu lama bermain gawai, hingga kurang berolahraga membuat tubuh kehilangan kebutuhan untuk mempertahankan massa otot. 

Menurutnya, prinsip dasar kesehatan otot adalah use it or lose it atau “gunakan atau kehilangan”. Seseorang yang rutin melakukan aktivitas fisik seperti berlari, bersepeda, atau latihan ketahanan akan lebih mampu mempertahankan bahkan meningkatkan massa ototnya. Sebaliknya, kurang gerak akan membuat massa otot berangsur menurun. 

Dr. Taufan juga mengingatkan bahwa pasien yang menjalani tirah baring dalam waktu lama akibat sakit, maupun penderita infeksi kronis seperti tuberkulosis (TBC), berisiko mengalami kehilangan massa otot secara signifikan. 

Adapun gejala awal sarkopenia yang perlu diwaspadai antara lain berjalan lebih lambat, kesulitan bangun dari kursi tanpa bantuan, mudah lelah saat beraktivitas ringan, sering menjatuhkan barang, hingga lebih sering mengalami jatuh tanpa sebab yang jelas. 

Untuk mendeteksi sarkopenia secara sederhana, masyarakat dapat melakukan tes duduk dan berdiri dari kursi sebanyak lima kali tanpa bantuan tangan. Jika membutuhkan waktu lebih dari 15 detik, kondisi tersebut patut diwaspadai sebagai gejala sarkopenia. 

Lebih lanjut, dr. Taufan menegaskan bahwa sarkopenia yang tidak ditangani dapat menyebabkan penurunan kekuatan fisik secara drastis, hilangnya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, hingga berdampak pada fungsi kognitif seperti daya ingat dan kemampuan berpikir. 

“Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga aktivitas fisik, menerapkan pola hidup sehat, dan melakukan pemeriksaan apabila mulai muncul gejala-gejala sarkopenia. Semakin dini terdeteksi, semakin baik peluang untuk mencegah dampak yang lebih berat,” pungkasnya.(her)