JATIMPOS.CO/BOJONEGORO - Suasana khidmat sekaligus meriah menyelimuti kawasan hutan di Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu 10/5/2026. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti tradisi Sedekah Bumi Hutan, sebuah ritual turun-temurun sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada leluhur pembuka desa atau babat alas.
Sejak pagi, warga berduyun-duyun membawa aneka hasil bumi. Mulai dari tumpeng, pala pendem, palawija, hingga ingkung ayam kampung ditata rapi di bawah pohon jati tua yang diyakini sebagai cikal bakal dusun. Prosesi diawali dengan doa bersama dipimpin sesepuh desa, Mas Lulus, dilanjutkan kenduri massal dan tradisi berebut gunungan hasil bumi. “Ini nguri-uri budaya. Sedekah bumi itu sedekah, berterima kasih sama Sang Pencipta lewat alam,” tegas Mas Lulus.
Mas Lulus mengungkapkan, Sedekah Bumi Hutan merupakan ikhtiar spiritual sekaligus ekologis untuk menjaga kelestarian alam. “Leluhur kita titip hutan ini. Kalau kita syukuran, kita diingatkan untuk tidak serakah. Ambil hasil dari tanah hutan secukupnya, tanam lagi, jangan sampai dirusak,” ujarnya. Nilai itu yang terus diwariskan ke generasi muda agar hutan tetap lestari.
Antusiasme warga terlihat dari guyub rukun yang tercipta. Ibu-ibu sibuk menyiapkan ambengan, bapak-bapak mempersiapkan ubo rampe, sementara anak-anak muda turut membantu kelancaran acara. "Seneng rasanya bisa kumpul sedesa. Anak cucu jadi tau kalau desa kita punya tradisi keren begini,” kata salah satu warga Ngorogunung dengan wajah sumringah.
Sesepuh Ngorogunung, Mas Lulus berharap tradisi ini bisa masuk kalender wisata budaya Kabupaten Bojonegoro. “Potensinya besar. Ini budaya otentik. Kalau dikemas baik, bisa jadi daya tarik wisatawan sekaligus edukasi cinta hutan untuk generasi muda,” harapnya. Ia menambahkan, pihaknya siap bersinergi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro untuk mendokumentasikan dan mengusulkan ritual ini sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Rangkaian Sedekah Bumi Hutan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan desa dan berkah hasil bumi. Warga meyakini, dengan menjaga tradisi dan hutan, desa akan dijauhkan dari pagebluk serta dilimpahi kemakmuran. “Bumi disehatne, langite diramut, rezekine teko dewe,” pungkas Mas Lulus. (Nar)
