JATIMPOS.CO, KABUPATEN JEMBER – Sejumlah 3.000 mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di Kabupaten Jember resmi turun dan mengabdi ke desa-desa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 2026.
Pelepasan akbar yang berlangsung meriah ini dipimpin langsung oleh Bupati Jember Muhammad Fawait, dengan mengusung tema besar yang sarat makna, yaitu Desa Cinta (Desa Pendataan Akurat, Kemiskinan Tuntas) berlangsung di Alun-alun Jember, Minggu (19/7/2026).
Tema ini diambil sebagai bentuk kepedulian dari para akademisi muda untuk mencintai desa dengan cara memvalidasi data kemiskinan secara akurat, demi terwujudnya Jember yang bebas dari jurang kemiskinan.
Dalam orasi kebangsaannya yang membakar semangat ribuan mahasiswa, Gus Fawait sapaan akrab Bupati Jember, juga merepresentasikan dirinya sebagai bagian dari generasi muda. Dirinya mengajak para peserta KKN Kolaboratif untuk mengubah narasi kritisisme menjadi aksi nyata.
"Kita jangan cuma pintar mengkritik atau bahkan mencaci maki, tapi kita harus memberikan masukan-masukan konkret," tegas Gus Fawait di hadapan ribuan mahasiswa yang memadati lokasi pelepasan.
Menurutnya, energi besar yang dimiliki oleh mahasiswa harus disalurkan menjadi solusi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat di akar rumput.
"Misi utama dari program KKN Kolaboratif bertema Desa Cinta ini adalah melakukan reformasi dan validasi data kemiskinan di tingkat desa. Mahasiswa akan turun langsung ke rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa masyarakat yang masuk dalam kategori desil 2 (masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah) benar-benar tervalidasi dengan akurat," ungkapnya.
Gus Fawait menjelaskan bahwa akurasi data adalah kunci utama efektivitas kebijakan pemerintah. "Ketika pemerintah ingin mengentaskan kemiskinan, pemerintah bisa tepat memberikan kepada orang yang tepat, memberikan kepada orang yang berhak," ujarnya.
Kehadiran mahasiswa melalui KKN ini diharapkan mampu meminimalisir adanya bantuan sosial yang salah sasaran akibat data yang usang. Kabupaten Jember saat ini menghadapi tantangan yang cukup unik. Di satu sisi, Jember dikenal sebagai lumbung pendidikan dengan memiliki sekitar 31 perguruan tinggi. Namun di sisi lain, Jember masih menduduki peringkat kedua dengan angka kemiskinan absolut terbanyak di Jawa Timur setelah Kabupaten Malang.
Gus Fawait menyebut kondisi ini sebagai sebuah paradoks yang harus segera diselesaikan. Melalui gerakan kolaborasi 3.000 mahasiswa ini, pemerintah daerah ingin membuktikan bahwa keberadaan kampus-kampus besar di Jember mampu menjadi motor penggerak utama dalam penurunan angka kemiskinan. Ia juga mengingatkan agar para mahasiswa selalu menjaga nama baik almamater selama berinteraksi dengan warga.
"Nama almamater ada di pundak adik-adik semuanya," tambahnya.
Tidak hanya mengandalkan program KKN di lapangan, Pemerintah Kabupaten Jember juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan struktural melalui jalur pendidikan. Gus Fawait mengumumkan bahwa Pemkab Jember akan kembali membuka pendaftaran beasiswa kuliah yang ditargetkan untuk kurang lebih 4.200 anak asli Jember. Beasiswa ini berlaku bagi mereka yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, se-Indonesia. (Ari)