JATIMPOS.CO/SURABAYA- Di Indonesia, tidak semua olahraga dimainkan di lapangan. Sebagian justru hidup di ruang-ruang sosial—dari warung kopi hingga teras rumah—dan diwariskan lintas generasi.

Domino adalah salah satunya. Meski kerap dipandang sebagai permainan santai, domino memiliki karakteristik yang membuatnya layak disebut sebagai “olahraga rakyat”: kompetitif, berbasis strategi, dan melibatkan interaksi sosial yang kuat.

Berbeda dengan olahraga fisik, domino mengandalkan ketajaman berpikir, kemampuan membaca situasi, serta pengambilan keputusan dalam waktu singkat. Tidak heran jika di berbagai komunitas, permainan ini sering dimainkan secara serius, bahkan dalam format turnamen lokal.

Elemen inilah yang membuat domino sering dikategorikan sebagai mind sport—olahraga berbasis kemampuan kognitif. Memasuki era digital, domino tidak kehilangan relevansinya.

Justru sebaliknya, permainan ini semakin luas jangkauannya. Dengan lebih dari 150 juta gamer di Indonesia dan dominasi mobile gaming di atas 90%, domino kini hadir dalam format yang lebih praktis melalui platform seperti Higgs Games Island.

Di dalam platform tersebut, Domino Higgs menjadi salah satu game yang paling aktif dimainkan. Transformasi ini memungkinkan domino tidak hanya dinikmati dalam lingkup komunitas kecil, tetapi juga oleh pemain dari berbagai daerah dengan tingkat kompetisi yang lebih luas.

Ray, perwakilan Higgs Games Island, menilai bahwa kekuatan domino terletak pada keseimbangan antara budaya dan kompetisi. “Domino di Indonesia itu unik. Dia bukan sekadar permainan, tapi sudah jadi bagian dari interaksi sosial. Ketika masuk ke digital, kami melihat potensi kompetitifnya juga semakin kuat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima jatimpos.co. di Surabaya, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, digitalisasi justru memperluas makna domino sebagai aktivitas yang lebih dari sekadar hiburan. “Sekarang pemain bisa mengasah strategi, bertemu lawan baru, dan bermain secara lebih kompetitif. Dalam konteks tertentu, ini sudah mendekati konsep olahraga—hanya saja medianya berbeda,” tambah Ray.

Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara hiburan dan olahraga semakin cair. Domino, yang berakar dari tradisi, kini berevolusi menjadi aktivitas kompetitif berbasis digital yang tetap inklusif dan mudah diakses. Sebagai “olahraga rakyat”, domino tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman—dari ruang sosial ke ruang digital, tanpa kehilangan identitasnya. (rl)